Senin, 15 April 2013

'Dunia' dan Kenyataan

Relung jiwaku sedang kehilangan rasa, dunia yang dulu aku perjuangkan kini telah usai. Seharusnya aku bisa tenang dan bahagia tapi aku sedih sekali. Perasaanku berkata bahwa aku sedang kehilangan sesuatu yang sangat berharga, dunia itu lenyap dengan keadaannya sendiri. Perasaan dan pengalaman ini terus aku alami ketika ada suatu dunia ‘bersama’ dan bertemu teman-teman yang baru. Konferensi Mahasiswa FISIP Se-Indonesia membuat dunia ku yang dulu hitam dan abu-abu semakin berwarna-warni. Di dunia itu aku seharusnya bisa profesional dan tidak mendapatkan perasaan ini. Perasaan kehilangan yang begitu besar.

Hari ini aku memulai kembali semua yang kutinggalkan, dan dunia itu -yang tadinya begitu kuperjuangkan untuk sukses- kini telah mendapatkan hasil yang terbaik. Aku cuma sedang merenung, kenapa dunia bisa begitu hilang dalam sekejap ketika kita perlahan menikmatinya dan berkedip ketika kita sudah merasa bahagia. Perasaan kosong ketika dunia yang aku perjuangkan hilang karena waktunya telah habis di dunia. Seakan-akan aku kehilangan seseorang yang begitu aku cintai dan Ia telah meninggalkan hati ini untuk di caci dan di maki karena kurang sempurna memahami perasaan Ia, dan aku cuma bisa meratapi tapak serta jejak yang telah ditinggalkannya.

Aku bertanya dalam hati ‘kapan dunia itu bisa menyentuh dan berbentur kembali pada dunia ku?’, ‘kan perjuangkan kembali semua warna-warni dan kilauan itu. Biarlah tubuh ini menjadi lelah dalam berkarya dan menyebarkan bentuk-bentuk dunia itu. Asalkan mereka dan dunia tersebut dapat terus ada dalam lingkaran kehidupan yang aku punya ini. Aku cuma rindu pekerjaanku dulu yang ada dalam dunia tersebut, aku cemburu dan merenung melihat tumpukkan warna yang di tinggalkan dunia tersebut di tempat yang aku punya. Sementara aku ribut dan mencari apa saja yang telah di tinggalkan dunia tersebut.

Yang sering kupikirkan, bagaimana dunia tersebut menulis dengan tinta kenangan indah, di dalam otak dan pikiran hitam --serta abu-abu-- ini. Dengan tinta tinta putih dan warna terangnya itu, menyebabkan pikiran dan hatiku bersinar dalam jalan hidup yang gelap. Tiap kulihat memori itu cuma bisa tertutup dalam pengalaman. Karena mungkin, esok harinya aku hanya terkenang sebentar. Sesungguhnya dunia yang baik dan menyenangkan hanya akan berlangsung sebentar, sedangkan dunia yang buruk dan membosankan akan berlangsung sangat lama. Kenyataan pada sikap dan cara menanggapi dunia itu sendiri, itulah kenapa kita akan selalu dan harus menerima keadaan itu secara ikhlas dan sabar.

Selasa, 02 April 2013

Sayap-sayap Kejahatan


Hari ini dunia menjadi biru dan hijau. Tapi warna yang ku miliki tetap hitam dan tidak dapat putih atau kembali pada warna yang merah. Sebab warnaku yang hitam, aku dapat mengadu dan merubah warna menjadi gelap, realita dan mimpi yang kelabu dalam pikiran manusia yang sangat bodoh. Aku memang munafik dan takut untuk membuka setiap relung dada dalam semangatku. Karena mungkin untuk membuka setiap pintu dan lorong itu perlu sesuatu yang tidak begitu biasa. Aku melihat sekelompok orang mencari kunyahan dalam daging kehidupan dan berharap dapat menjadi penguasa tubuh yang telah terinfeksi oleh kepentingan kelompok lainnya. Ku telaah tiap rasa amis tumpahan darah dan keringat yang mereka berikan. Kujadikan ini menjadi bentuk kebrutalan kompetisi dalam mencari kekuasaan. Tapi aku tetap tidak mengerti mengapa mereka tetap bergumam dan berkata bahwa ketidakadilan sedang berlangsung, dimataku ketidakadilan tersebut merupakan keadilan. Dengan berbuat demikian, keadilan tetap bisa bergerak dan bebas dalam mempengaruhi. Ketika mereka bertanya mengapa aku dan mereka berbuat demikian, ini karena kalian tidak mengikuti aturan dan langkah yang sudah disetujui. Maka kalau kalian tetap bertanya, kita selesaikan dengan membuang ketempat yang kotor. Bagaimana???
Sayap-sayap memang selalu tumbuh walau bentuknya tidak selalu indah dan akan abstrak. Tapi dari sayap-sayap itu kemudian datang sebuah kehidupan yang indah, sebuah ketertiban dan mengembalikan kebaikan pada tempatnya. Pada akhirnya sayap itu memang harus patah dari tindakan yang kurang indah. Mereka tak perlu mengerti bahasa dan isyarat dari rangkaian kata ini, aku hanya bilang bahwa kehidupan tidak selalu untuk memberikan pengaruh, pada akhirnya kita yang harus nya diam dan menurut pada keadaan yang sudah ditentukan. Kehidupan yang punya sayap, tidak selalu putih, biru, hijau, tapi hitam sehitam malam tanpa bintang dan bulan. Inilah sayap-sayap kejahatan.